
Malessa Fashion, Perca dari Tipes yang Menyatukan Ibu dan Anak
Di gang-gang Tipes yang ramai, suara mesin jahit kerap terdengar dari rumah sederhana milik Madu Mastiti. Dari potongan kain perca, ia membangun Malessa Fashion, sebuah usaha yang ia namakan dari gabungan dirinya dan sang anak, Alesha. Keputusan meninggalkan pekerjaan kantoran demi lebih dekat dengan keluarga justru membuka jalan baru, jalan yang penuh keberanian, disiplin, dan semangat untuk terus bertumbuh.
Menjahit Harapan Lewat Keberanian dan Konsistensi
Dengan modal Rp180.000 untuk membeli 10 kg kain perca, ia mulai menjahit daster sambung dan menjualnya ke pengepul. Perlahan, keberanian membawanya mencoba hal baru, merambah dunia digital untuk memperluas pasar dengan mengunggah produk ke marketplace Facebook. Dari sana, pembeli berdatangan dan peluang semakin terbuka. Semua ia jalankan sendiri, mulai dari produksi, pengiriman barang, hingga antar-jemput anak. Untuk memastikan keberlanjutan usahanya, Ibu Madu disiplin menerapkan sistem gaji pada dirinya sendiri serta mencatat laba sebagai biaya, listrik, bahan, dan operasional. Prinsip ini menjadi pondasi yang selalu ia pegang.

Pandemi Bukan Halangan, Justru Titik Balik Usaha
Saat pandemi Covid-19, ketika pasar tutup dan suami tidak bekerja, Ibu Madu banting setir memproduksi masker dari kain perca sisa produksinya. Pesanan berdatangan, bahkan hingga ke luar pulau. Ia sempat mengirim masker ke Desa Pabuaran, Sumatra, hanya dengan menitip pada pengiriman bus ALS. Pelan-pelan ia bisa menambah mesin jahit dan mulai memberdayakan warga sekitar.

Bertumbuh Bersama DIVA
Sebelum bergabung dengan program DIVA Permata Tipes, Ibu Madu sudah lebih dulu menggagas kelompok perempuan "Wanita Berkarya" di tahun 2020 bersama dukungan Pak Lurah dan Kementerian Ketenagakerjaan. Kelompok ini beranggotakan 20 perempuan.
Pelatihan DIVA menjadi pelengkap besar bagi usahanya. “Seperti masak nasi, dulu itu baru setengah mateng, setelah ikut DIVA jadi tanak,” ujarnya. Ia dan rekan-rekan belajar foto produk, katalog, logo, copywriting, hingga teknik promosi digital. Yang paling bermanfaat menurutnya adalah Google Bisnis karena banyak pelanggan datang setelah menemukan alamat di sana, mulai dari pesenan SMA, Universitas sekitar Solo sampai dari luar kota. Live selling pun ia lakukan sambil menunjukkan proses produksi agar pembeli percaya bahwa produknya benar-benar buatan sendiri. Dampak ke usahanya sangat bagus, omzetnya meningkat 30%.
Lucunya, saat pelatihan banyak yang perlu penyesuaikan dengan teknologi, “Mbak, aku iki gaptek. Nggak iso opo opo. Isone mung produksi. Titike (koordinat Google Bisnis) iki kepiye?” katanya menirukan. Tapi semua saling bantu, belajar bersama, bukan saingan.

Di balik semua pencapaian, Ibu Madu sadar, masih banyak benang yang harus ia jahit dalam perjalanan usahanya.
Tak semua orang memulai dengan ilmu di tangan. Ibu Madu pun begitu. Dari yang tidak tahu jadi tahu, dari yang ragu jadi yakin. Dan itulah kunci pertumbuhan UMKM yang sesungguhnya.

Cerita Diva Lainnya

Empon Manggi Bu Warni
Di sudut Kampung Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, ada satu rumah yang setiap paginya selalu harum rempah. Di sanalah Ibu sederhana bernama Ibu Warni tinggal dan menjalankan usahanya. Berawal dari sakit yang dideritanya, Ibu Warni meracik jamu temulawak hingga akhirnya sembuh dan menjual jamu buatannya di pasar. Sejak itu, usahanya “Empon Manggi” semakin dikenal luas dan diminati banyak orang.
Baca selengkapnya
Telur Disulap menjadi Kerupuk: Sebuah Peluang Bisnis yang Menjanjikan
Siapa sangka, telur sederhana yang sehari-hari hadir di meja makan bisa menjelma menjadi camilan istimewa dengan cita rasa unik dan peluang bisnis yang menjanjikan? Dari butiran telur ternak yang awalnya hanya dijual di pasar, lahirlah kisah ketekunan dan keberanian untuk berinovasi hingga melahirkan nama Fresh Egg Cindelaras. Inilah perjalanan Bu Ririn, sosok perempuan tangguh yang membuktikan bahwa kegigihan mampu mengubah hal kecil menjadi sesuatu yang bernilai besar.
Baca selengkapnya
Rempeyek Ayu Sokka, Cemilan dari Pendem yang Kini Dilirik Banyak Orang
Ibu muda Ayu Sokka mulai dikenal dengan rempeyeknya. Di usia 31 tahun, ia tak hanya dikenal sebagai warga setempat, tapi juga sebagai peracik rempeyek yang khas dan menggugah selera. Nama “Ayu Sokka” tak hanya mewakili dirinya, tetapi juga melekat sebagai identitas produk yang ia rintis dari dapur rumahnya sendiri. Beragam varian rempeyek ia hadirkan mulai dari kacang tanah, kacang ijo, kacang tolo, rebon, kedelai, hingga teri. Semuanya digoreng renyah dengan cita rasa rumahan.
Baca selengkapnya