
Sentuhan Rasa Kucai Membawa Keripik Masshita Dikenal Luas
Di balik riuh Pasar Kliwon, Solo, tersimpan kisah Rustini, seorang ibu yang menjadikan cinta keluarga sebagai alasan memulai usaha. Dari kegagalan membuat keripik singkong, ia berinovasi lewat tempe bercampur kucai khas kampung halamannya di Tegal. Dari dapur rumah sederhananya, lahirlah Masshita, keripik tempe dengan cita rasa berbeda yang kini mulai dikenal banyak orang.
Berkat Langkah Digital, Cita Rasa Keripik Menggema Luas
Meski piawai memasak, Rustini sempat ragu saat pertama kali menjual keripik tempenya. Ia menitipkan produk sederhana ke wedangan HK seharga Rp1.800 dan dijual kembali Rp2.000. Respon positif, apalagi setelah ada varian pedas, membuatnya berani melangkah lebih jauh hingga bergabung dengan DIVA UMKM. Dari pelatihan, ia belajar pentingnya tampilan produk, teknik foto, hingga kemasan yang lebih profesional. Modul Google Bisnis memberi dampak besar, bahkan produknya ditemukan oleh tamu hotel asal Pontianak yang langsung memborong hingga Rp400 ribu.
Rustini kemudian mengurus sertifikasi halal dan PIRT, memperluas pasar hingga Yogyakarta. Penjualannya meningkat, baik secara langsung maupun lewat media digital seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Ia juga memperbaiki kemasan, belajar foto produk, dan lebih disiplin mengelola keuangan dengan memisahkan bisnis dan pribadi. Pengalaman sakit sebelumnya membuatnya sadar akan pentingnya mengatur keuangan dengan bijak, sehingga kini ia lebih mantap menjalankan Masshita.

Perempuan Hebat tanpa Meninggalkan Peran Istri dan Ibu
Salah satu momen paling berkesan bagi Bu Rustini adalah saat ia dan teman-teman pelaku usaha membawa produk masing-masing ke sesi pelatihan. Suasananya penuh tawa dan kehangatan. Semua sibuk mencoba memotret produk, saling mencicipi, dan memberi masukan. Ada susu, rengginang, baltek, dan tentu saja keripik tempe kucai miliknya. Dari proses sederhana ini, Bu Rustini belajar pentingnya saling dukung dan keterbukaan dalam berkembang.
Bagi Bu Rustini, menjadi perempuan pelaku usaha adalah tentang ketangguhan, bukan sekadar mencari penghasilan tambahan. Ia percaya, perempuan harus tetap hebat tanpa meninggalkan peran sebagai istri dan ibu. Kuncinya adalah semangat dan keberanian untuk mencoba. “Kalau jualan, harus dicicipi. Jangan pelit, biar tahu rasanya. kalo ngga tau ngga kenal, kalo ngga kenal maka ngga sayang,” tuturnya.

Kisah Masshita adalah Tentang Keberanian, Cinta Seorang Ibu, dan Semangat untuk Terus Bertumbuh
Bu Rustini mengawali ribuan Ibu lainnya yang mengalahkan keraguan menjadi keberhasilan. Keripik Tempe Kucai Masshita membuktikan bahwa dari dapur sederhana pun bisa lahir inovasi besar.

Cerita Diva Lainnya

Telur Disulap menjadi Kerupuk: Sebuah Peluang Bisnis yang Menjanjikan
Siapa sangka, telur sederhana yang sehari-hari hadir di meja makan bisa menjelma menjadi camilan istimewa dengan cita rasa unik dan peluang bisnis yang menjanjikan? Dari butiran telur ternak yang awalnya hanya dijual di pasar, lahirlah kisah ketekunan dan keberanian untuk berinovasi hingga melahirkan nama Fresh Egg Cindelaras. Inilah perjalanan Bu Ririn, sosok perempuan tangguh yang membuktikan bahwa kegigihan mampu mengubah hal kecil menjadi sesuatu yang bernilai besar.
Baca selengkapnya
Rempeyek Ayu Sokka, Cemilan dari Pendem yang Kini Dilirik Banyak Orang
Ibu muda Ayu Sokka mulai dikenal dengan rempeyeknya. Di usia 31 tahun, ia tak hanya dikenal sebagai warga setempat, tapi juga sebagai peracik rempeyek yang khas dan menggugah selera. Nama “Ayu Sokka” tak hanya mewakili dirinya, tetapi juga melekat sebagai identitas produk yang ia rintis dari dapur rumahnya sendiri. Beragam varian rempeyek ia hadirkan mulai dari kacang tanah, kacang ijo, kacang tolo, rebon, kedelai, hingga teri. Semuanya digoreng renyah dengan cita rasa rumahan.
Baca selengkapnya
Berawal Menjadi Ibu Rumah Tangga, Kini Menjadi Pengusaha
Setiap usaha berawal dari mimpi, dan setiap nama menyimpan doa. Beltsa Modeste lahir dari cinta seorang Ibu yang dirangkai dari nama dua buah hati tercinta: Belva dan Sabita. Nama ini bukan sekadar identitas usaha, namun ada harapan dibaliknya. Dengan harapan, usaha ini bisa seberuntung anak-anaknya yang memiliki banyak teman, ramai, dan selalu membawa keberkahan. Itulah filosofi dibalik usaha rintisan ibu Endang Dwi Sudarmi yang sudah berjalan sejak tahun 1998.
Baca selengkapnya